Minggu, 24 Oktober 2010

(Ironi) Sungai Batang Hari dan Masyarakatnya

Siapa yang tak kenal Batang Hari?. Ya, sungai terpanjang se-pulau sumatera ini adalah sungai yang hampir “memotong” pulau sumatera menjadi dua bagian jika dilihat mulai dari hulu hingga hilirnya. Dengan panjang ± 3322 km, sungai batang hari memiliki panjang hampir 4 kali lipat lebih sungai Musi. Sungai ini memiliki sejarah yang sangat banyak dan merupakan salah satu simbol kejayaan provinsi Jambi. Sungai Batang Hari memiliki hulu di propinsi Sumatra Barat dan muaranya di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Propinsi Jambi. Sungai ini membelah sebagian besar kota-kota yang ada di Propinsi Jambi.

Sejak dahulu, masyarakat sepanjang sungai batang hari menggantungkan sebagian besar kehidupannya ke sungai batang hari. Jika dilihat dari letak kota-kota di sepanjang aliran sungai Batang Hari, sebagian besar kota-kota terletak tepat di pinggiran sungai batang hari, ini menunjukkan bahwa sejak dahulu sungai ini telah menjadi sumber kehidupan masyarakat dan merupakan akses transportasi air yang berperan besar sebelum adanya jalan-jalan darat. Perkembangan zaman dan teknologi ternyata tidak berpengaruh besar terhadap perkembangan pembangunan kota-kota ini, tetap saja disepanjang aliran sungai Batang Hari menjadi saasaran tempat pembangunan disebagian wilayah.

Kehidupan masyarakat dikota-kota sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar bergantung pada kebradaan sumberdaya alam yang melimpah ruah tersedia disepanjang sungai Batang Hari. Mulai dari sektor perikanan, pertanian, tambang, serta sektor kehutanan. Hal ini sepertinya sangat disadari oleh masyarakat, ini terbukti dengan tingginya antusias masyarakat dalam mengeksploitasi sumberdaya alam dibantu oleh pihak-pihak pemilik modal. Sejak beberapa tahun yang lalu, kegiatan eksploitasi ini semakin hari semakin marak. Kegiatan illegal logging terjadi secara besar-besaran di sepanjang aliran sungai batang Hari, ini terbukti dengan banyaknya rakit-rakit kayu hasil tebangan dari dalam hutan yang selalu menyemaraki badan sungai Batang Hari di beberapa tahun terakhir. Illegal logging ini terus meluas ke kawasan-kawasan yang agak jauh dari sungai. Disektor pertanian, kegiatan ladang berpindah terus diterapkan sebagian besar masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini tentu sangat berbahaya dan berkaitan langsung dengan kerusakan hutan yang terus meluas. Dua sektor ini mengakibatkan banyaknya lahan-lahan kosong yang tidak termanfaatkan. Di sektor lain, kegiatan pertambangan semakin hari semakin berkembang. Pembangunan pemukiman penduduk sebagian besar menggunakan bahan-bahan yang berasal dari hasil pertambangan pasir disepanjang sungai Batang Hari. Selain itu, kegiatan tambang emas di sepanjang sungai batang hari terus berkembang dan mengakibatkan tingginya sedimentasi, longsor tebing sungai, dan pencemaran air. Sektor lain yang memperparah kerusakan kawasan sepanjang sungai Batang Hari adalah sektor perkebunan. Belakangan ini, perkebunan kelapa sawit sangat berkembang pesat. Investasi secara besar-besaran di kucurkan ke bidang ini. Ini diimbangi dengan tingginya kebutuhan minyak kelapa sawit dari masyarakat dunia sendiri. Perkebunan kelapa sawit ini memperparah degradasi lahan hutan dan deforestasi yang mana sebagian besar kawasan perkebunan adalah merupakan kawasan hutan.

Beberapa puluh terakhir, kerusakan lahan terus terjadi dan semakin parah. Keluarnya UU Otonomi daerah membawa dampak positif dan negative bagi upaya pelestarian kawasan. Ini terbukti pada pengelolaan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS). Sungai yang notabennya adalah sebuah kesatuan dan memiliki fungsi yang sangat penting antara setiap bagiannya (Hulu, tengah, hingga Hilir), seharusnya dikelola dengan sebuah system pengelolaan yang ini sangat berbeda dengan yang ada di peraturan terbaru itu (belakangan telah diperbaiki dan disesuaikan). Sebuah kenyataan bahwa pengelolaan sepanjang aliran sungai Batang Hari menimbulkan dampak negative adalah pengelolaan kawasan hulu yang kadang tidak mempertimbangkan fungsi kawasan hulu dalam sebuah DAS. Ijin pengembangan perkebunan dikawasan hulu terus saja dikeluarkan, ini akan sangat berbahaya jika suatu waktu tiba musim hujan yang panjang dan akan mengakibatkan bencana pada kawasan hilir. Setidaknya faktor-faktor itu yang harus sangat diperhatikan dalam pengembangan pengelolaan kawasan.

Sebuah Kenyataan

Keperkasaan sungai Batang Hari yang dahulunya sangat diandalkan masyarakat semakin hari seolah semakin menghilang. “Ironi”, ya memang mungkin ini yang terlihat di beberapa waktu terakhir. Sungai ini semakin hari semakin tak bersahabat. Kegiatan eksploitasi terhadap SDA terus saja terjadi, pengetahuan terus berkembang dan bencana menjadi “langganan” setiap tahun. Sebuah pertanyaan yang bukan hanya dari saya, namun juga dari banyak masyarakat dusun disepanjang aliran sungai Batang Hari : kemana “bapak-bapak” berdasi yang kami percaya untuk mengelola daerah kami? Setiap tahun selalu saja pengadilan melukiskan nama-nama “para pemain” situasi ini, para pencuri dan penghisap uang rakyat miskin sepanjang aliran sungai penyebab kematian. Semakin hari para nelayan sungai batang hari semakin susah mendapatkan hasil tangkapan, semakin hari semakin susah hidup masyarakat sepanjang aliran sungai. “yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin”, mungkin pernyataan ini pantas untuk didengar, sayangnya perbandingan sikaya dan simiskin amat besar, 1 : 20 jiwa mungkin (data statistiknya terus bertambah saja).

Kayu semakin habis, peraturan semakin ketat, air semakin kotor, udara semakin tercemar, uang semakin sulit. Sekali lagi yang menanggung akibat adalah masyarakat. Peraturan dikeluarkan sayangnya amat terlambat, ketika SDA telah terkuras habis, kerusakan telah terjadi, barulah kebijakan ini diperketat, akibatnya akses semakin sulit terhadap SDA dan sekali lagi masyarakat merasa “berperang” dengan pemerintah sendiri. Ini memang terus akan menjadi perdebatan, tak ada yang tau apa yang melatar belakangi, jika bicara pada satu sisi, maka akan selalu saling menyalahkan dan terus menimbulkan polemik, yang terpenting sekali lagi adalah nasib ribuan orang yang tejebak di ladang emasnya sendiri?

Jambi panas, kebanjiran, kekeringan, dan kabut asap. Langganan setiap tahun, sayangnya berlangganan pada bencana. Headline banyak surat kabar, berita utama pada media elektronik, namun aku selalu melihat kampungku menjadi bulan-bulanan ocehan dan perdebatan kaum aktifis lingkungan, ini memang terjadi. Panas yang luar biasa, ini dirasakan hampir di seluruh kawasan kota-kota di propinsi jambi. Polusi akibat asap kebakaran hutan maupun asap kendaraan semakin menyelubungi, berpesta pada ribuan penyakit yang siap datang.

Ladang Air Yang Kekeringan

Sungai Batang Hari, sungai besar yang selalu mengaliri air sepanjang tahunnya. Namun tidak untuk rakyat-rakyatnya. Ironi, sekali lagi terlihat. Air selalu datang dan pergi tanpa iringan senyum, air datang bersama banjirnya yang besar dan lama, Air pergi bersama derasnya aliran yang tidak termanfaatkan, mengakibatkan kekeringan yang melanda masyarakat.

Sama dengan daerah tropis lainnya, curah hujan di propinsi jambi tergolong tinggi. Ini sebenarnya sangat mendukung dengan keberadaan hutan yang luas dan sungai yang besar di propinsi ini. Namun pada kenyataannya tidak, hutan yang terus digunduli mengakibatkan salah satunya siklus air tanah yang jelek, dan aliran permukaan yang besar, akibatnya adalah erosi sangat tinggi dan air yang meresap ketanah terus berkurang. Penutupan kawasan hutan yang terus berkurang mengakibatkan daya resap dan kemampuan menyimpan air berkurang. Akibatnya adalah ketika hujan datang pada musim dan intensitas yang besar terjadi banjir dan jika musim kemarau datang akan terjadi kekeringan karena kemampuan tanah menyerap air berkurang. Ini terjadi dibeberapa daerah, sebagai contoh di kabupaten Tebo, pada musim kemarau masyarakat sangat sulit mendapatkan air bersih yang biasanya didapat dari sumur yang dibuat warga di setiap rumah. Solusi yang mungkin harus di fikirkan adalah bagai mana caranya agar air yang turun sebagai hujan tidak hanya menjadi aliran permukaan saja, tetapi dapat ter infiltrasi/masuk kedalam tanah sebanyak-banyaknya. Ini sangat efektif menurut saya jika ingin mengurangi banjir dan kekeringan, karena air yang ada bukan dibiarkan mengalir ke selokan-selokan dan sungai tetapi di masukkan ke tanah agar dapat dimanfaatkan menjadi air tanah. Cara yang palin sederhana adalah dengan membuat sumur-sumur resapan dan upaya jangka panjang adalah dengan penanaman pohon yang perakarannya baik untuk pengembalian aerasi dan draenasi tanah, selain itu pohon akan sangat bermanfaat dalam upaya perbaikan iklim global serta nilai estetika yang terkandung.

Jika saya mengingat masa kecil, hidup didusun pinggiran kota Tebo rasanya teramat bahagia. Kehidupan yang kompleks, budaya, manusia, dan alam sangat bersahabat dan ini menimbulkan kerinduan yang amat besar. Tak sampai sepuluh tahun, suasana itu berubah dan semakin parah. Dahulu anak kecil yang riang gembira mandi-mandi di pinggir sungai, bugil, terjun dari ranting-ranting pohon dan berseluncur di tebing-tebing sungai. Anak-anak yang kalau pulang sekolah bermain laying-layang, berperahu dikala senja, bermain bersama ternaknya, makan “berawang” ditengah hutannya, berteriak riang berenang disungai Batang hari, sambil menunggi pancing yang tertambat di sisi “jamban”, kini itu menghilang tergerus air sungai bercampur bencana. Tak ada lagi ibu-ibu yang memperbolehkan anaknya bermain disungai itu, bermain laying-layang ditengah hari lagi, memancing, dan budaya itu hilang. Berganti dengan budaya modern bersama hirupan nafas penyebab kematian yang dipilih sebagai pilihan terbaik untuk kehancuran. Panas tengah hari memang tak akan member ijin setiap ibu-ibu untuk anaknya bermain laying-layang lagi, banjir dan kotornya air tak memungkinkan anak-anak sekarang untuk dapat merasakan kekayaan SDAnya lagi. Jika sekarang anak-anak itu tak dapat merasakan kekayaan alamnya lagi, teramat mungkin anak-anak yang lahir esok tak dapat melihat kekayaan alamnya. Hal terkecil adalah berbuat untuk diri sendiri dulu, keluarga, dan orang lain. Batang Hari-ku jangan sampai kering terserap waktu, jangan menjadi lautan menenggelamkan ribuan saudara dikampungku. Batang Hari bukan anugerah dalam kehidupan masyarakat Jambi, ia selayaknya menjadi sahabat kehidupan rakyat Jambi yang bukan hanya sampai disini. Manusia hidup bukan DIDALAM alamnya, tapi hidup BERSAMA alamnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar