Senin, 25 Oktober 2010

KISAH ANAK JALANAN

beberapa waktu yang lalu aku pernah di mintai tolong oleh teman ku untuk menemani untuk wawancara anak jalanan dan pengemis jalanan yang kadang membuat kita merasa iba atas keberadaannya.

dengan senang hati aku membantu teman ku itu, aku sebenarnya ingin tau apa yang menjadi penyeban dan alasan mereka jadi lebih memilih menjadi peminta minta dari pada menjadi pekerja kasar yang lain.

hari pertama kami habiskan untuk mewawancaraai beberapa orang peminta minta di jalan. hasil wawancara hari ini sebenarnya cukup untuk bahan tulisan teman aku. namun entah kenapa aku merasakan ada beberapa kejanggalan dalam hasil wawancara itu.

menurut mereka, karena mereka tidak punya ijazah lah yang membuat mereka terpaksa meminta minta dijalan. jagankan lulusan SMK atau SMA, ijazah SD pun masih belum mereka kantongi. sedangkan saat ini peluang perusahaan atau tempat usaha yang ada menuntut untuk minimal berijazah SMA atau SMK. inilah salah satu penyebab kenapa pemerintah begitu gencar untuk menuntut masyarakat untuk wajib belajar 12 tahun.

pada hari ke tiga kami lanjutkan untuk wawancara dengan beberapa anak jalanan dan pengamen di lampu merah. menurut mereka sebagian dari mereka memang ada yang sekolah, tapi banyak juga yang lebih memilih menjadi pengamen jalanan atau peminta minta karena tidak punya biaya untuk sekolah. bahkan yang menyuruh mereka untuk mengamen di jalan adalah orang tua mereka dengan alasan untuk membantu perekonomian keluarga

dari dua hari kami wawancara dengan para manusia yang mengantungkan hidup dijalan ini rasanya sudah cukup untuk bahan tulisan teman aku, tapi untuk aku pribadi itu masih sanggat kurang

dengan modal celana jins yang sobek dan ku potong dan gitar pinjaman dari teman aku. aku mencoba untuk mencari tau semua pertanyaan itu dengan cara aku sendiri

memerlukan waktu sampai satu minggu untuk aku akhirnya bisa kenal cukup dekat dengan beberapa anak jalanan dan pengemis.
aku mulai pertanyakan kenapa mereka tidak sekolah

dengan wajah santai beberapa anak menjawab

"buat apa sekolah, mending ngamen ato ngemis"

"sekolah kami bayar tapi kalo ngemis kami dapat duit"

ini benar benar jawaban yang mengejutkan untuk aku pribadi. memang benar tidak semua anak jalanan beralasan seperti itu, masih ada beberapa anak yang memang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalan untuk mencari uang buat sekolah dan sebagian di berikan pada orang tua mereka. namun persentasi itu sangat minim. hanya beberapa anak saja yang beralasan sepeti itu

kemudian aku ikut pulang kerumah salah satu teman jalan ku dengan alasan aku pengen ikut menginap dirumah dia. aku terkejut bukan kepalang
ternyata rumah teman jalanan ku itu jauh lebih bagus dari rumah ku yang RSSSSSSSSSS (Rumah Sangat Sengsara Sekali Sedikit Semen Sampai Selonjor Saja Sudah Sangat Susah).

rumah mereka cukup besar dengan ruang tamu yang cukup lebar, belum lagi kamar mereka yang isinya cukup lengkap. setelah aku bertanya sebagian dari ini mereka dapat dari hasil mengamen dan meminta minta

waktu makan malam aku sempat berbincang bincang dengan keluarga itu

"mudahan esok aku pakulihan banyaklah"

"hari ini sadang haja punk, dari baisukan sampai kamarian pakulihan haja mandua ratus"

bahasa Indonesianya

"semoga besok dapat lebih banyak"

"hari ini lumayanlah, dapat dua ratus ribu dari pagi sampai sore"

ini adalah nominal yang lebih besar dari pada PNS yang masih aktif, setelah aku pikir pikir benar juga. semisal setiap orang memberi Rp 1000 dan itu di kali 100 orang saja sehari sudah 100 ribu mereka dapat

kemudian bapak dirumah itu bilang pada ku yang masih newbie dalam dunia jalanan

"kada usah gair wal ai"

"datu moyang kita sudah manyambat buhan kita ni kada bakal kalaparan asal masih haja bagana di banua saurang"

bahasa Indonesianya

"tidak perlu takut teman"

"nenek moyang kita pernah bilang kita tidak akan kelaparan asal kita masih ada didaereh sendiri (tanah banjar)"

mungkin itulah salah satu alasan kenapa mereka lebih memilih menjadi peminta minta dari pada bersusah payah
karena adanya jaminan dari kata kata nenek moyang kami yang bilang bahwa hidup mereka akan terjamin selama meraka ada di tanah mereka sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar