Senin, 25 Oktober 2010

Mensos: Anak Jalanan Adalah Anak Kita Juga

Terkait dengan kasus penampungan anak jalanan ilegal yang mengganggu masyarakat di lingkungan Citayam Depok, Menteri Sosial Republik Indonesia Salim Segaf Al Jufri meminta kepada semua masyarakat jika menemukan kasus tersebut bisa melaporkan kepada yang berwajib.

“Kalau mau menampung dalam skala besar harus dinaungi oleh yayasan, dan kalau ilegal, masyarakat wajib untuk melapor kepada yang berwajib,”terangnya saat ditemui di Yayasan Bina Insani Mandiri Jumat (19/3).

Hal ini dilakukan guna tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.“Sebab anak-anak yang berada di jalanan mereka semuanya adalah anak-anak kita juga, mereka semua wajib kita jaga,” tegasnya

Pak Menteri mencontohkan, sebuah penampungan yang baik itu layaknya seperti yang berada di Bambu Apus Jakarta Timur.” Saya pingin untuk wartawan datang ke Bambu Apus. Semua yang berkaitan dengan masalah anak-anak ada disana penanganannya,

Kepedulian Terhadap Anak Jalanan

Menjadi anak jalanan bukanlah sebuah pilihan hidup mereka, melainkan sebuah tuntutan hidup. Keberadaan anak jalanan di setiap persimpangan jalan, stasiun, terminal adalah fenomena, gejala tentang gambaran nyata kondisi kemiskinan suatu kota dan gambaran kemiskinan bangsa kita. Penanganan anak jalanan harus dilakukan secara profesional. Jika tidak, akan berpotensi “lost generation”.

Berdasarkan amanah UU No.11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, disebutkan bahwa tanggung jawab dan wewenang kesejahteraan sosial ada di tangan Pemerintah maupun Pemerintah Daerah. Termasuk didalamnya terhadap penanganan anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) antara lain anak jalanan. Untuk itu, Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Pemkot Depok bekerja sama dengan SatPol PP mengadakan penjangkauan anak jalanan di stasiun Depok.

Menurut Tinte Rosmiati Kabid Sosial Disnakersos Pemkot Depok, penjangkauan tersebut sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap keberadaan anak jalanan, yaitu dengan mencari informasi secara detil penyebab dan akar permasalahan mereka menjadi anak jalanan.

”Pemerintah harus dan wajib intervensi terhadap permasalahan anak jalanan, dan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Kementerian Sosial, bahwa di tahun 2011 ada gerakan penarikan anak jalanan secara nasional atau dengan kata lain sudah tidak ada lagi anak jalanan yang turun ke jalan” ungkap Tinte.

Dari hasil penjangkauan tersebut dijaring 17 anak jalanan, dengan usia rata-rata 13-15 tahun. 11 anak berdomisili di Kota Depok. Saat ini pihak dinas sudah mengembalikan kepada orang tuanya untuk dibina kembali. Kewajiban Dinas adalah melakukan ”visit home” secara berkelanjutan. Sedangkan 6 anak berasal dari Kota Bogor, secara prosedur pihak dinas sosial Depok akan melakukan pengembalian kepada orang tua masing-masing melalui dinas terkait, dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja, Sosial dan Transmigrasi Kota Bogor.

Lebih lanjut, pemerintah saat ini telah menggelontorkan program yang diberi nama ”Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA)”, dan Kota Depok dijadikan sebagai pilot proyek untuk wilayah sejabodetabek. Dalam program tersebut Disnakersos Depok bekerja sama dengan mitra kerja Yayasan Bina Insan Mandiri (Yabim) yang lebih dikenal sebagai kelompok ”Mester (Mesjid Terminal)”.

Melalui PKSA, anak jalanan sebanyak 91 anak yang ditampung Yabim mendapatkan pendidikan dan pelayanan kebutuhan dasar bagi anak jalanan. Dana yang digelontorkan sebesar Rp. 5 ribu/anak/hari selama 1 tahun, berasal dari APBN.

Pada akhirnya, Tinte menilai persoalan anak jalanan, bukan saja menjadi tanggung jawab dinasnya saja, melainkan seluruh elemen masyarakat harus saling peduli dan memiliki empati terhadap persoalan anak jalanan, untuk bersama-sama melakukan gerakan yang nyata terhadap anak-anak tersebut. Karena, anak-anak itu juga merupakan anak-anak bangsa yang wajib diselamatkan, demi masa depan generasi bangsa.

Anak Jalanan tak Dapat Pendidikan Gratis

Pendidikan merupakan hak seluruh masyarakat Indonesia. Bagaimana dengan anak-anak jalanan? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos, Rahmad Sazaly dengan Ketua KPAID Sumut, Zahrin Piliang.

Apakah ada pendidikan gratis khusus untuk anak jalanan di Sumut?
Pendidikan gratis tentunya telah lama digembar-gemborkan pemerintah, namun sampai saat ini yang saya ketahui belum ada, dan itu memang perlu digagas.

Program pendidikan seperti apa seharusnya yang diajarkan di sana?
Seandainya ada, program pendidikan yang diberikan kepada mereka yakni pendidikan-pendidikan praktis, seperti setiap anak selalu masuk kelas dalam kondisi bersih. Harus saling menyalami dan memeluk satu sama lain dan menghindari kata-kata kasar dan jorok. Dimana ini merupakan pendidikan perilaku. Jika setiap hari selama sembilan tahun, seorang anak jalanan bisa diajar berperilaku sopan, tentu perilakunya akan berubah.

Apakah pendidikan teori tidak perlu bagi anak jalanan seperti layaknya pendidikan dasar 9 tahun?
Belajar bukan hanya teori, melainkan soal implementasi. Ini yang dibutuhkan anak jalanan agar tidak kembali ke jalan. Namun, teori seperti mata pelajaran matematika tetap saja harus diajarkan.

Bisa Anda contohkan satu pendidikan gratis bagi anak jalanan?
Ada pendidikan gratis bagi anak jalanan yang digagas di Jakarta. Di sana telah memiliki empat program yang sudah dijalankan. Seperti bimbingan belajar anak sekolah dan putus sekolah, bimbingan anak berbakat, bimbingan anak perempuan rawan dan bimbingan ibu dan anak negeri.

Apa manfaat program-program trersebut?
Keempat program ini difokuskan pada pengetahuan praktis. Misalnya saja, bimbingan anak perempuan rawan yang ditujukan untuk anak jalanan perempuan dan pekerja rumah tangga. Setiap tiga hari dalam seminggu, ada tim yang harus menyambangi anak jalanan untuk mengajari mereka tentang kesehatan reproduksi, cara membela diri dan cara melaporkan kepada polisi jika dilecehkan secara seksual. Lain lagi dengan program bimbingan ibu dan anak negeri. Program ada setelah realitas di lapangan yang terekam keras dan suram. Kemiskinan dan kebodohan telah merenggangkan hubungan orangtua dan anak. Imbasnya, keluarga terpecah, anak-anak pun lari ke jalanan. Banyak anak yang dieksploitasi oleh orangtuanya untuk bekerja di jalanan. Dengan pendidikan ini harapannya tak ada lagi ibu yang menyuruh anaknya mencari uang di jalan.

Bagaimana jika ada bakat yang baik dari dalam diri mereka?
Di sana, di luar kelas, anak-anak bisa berlatih alat musik, tari juga tinju. Mereka yang berbakat akan diikutkan kejuaraan tingkat daerah, bahkan nasional. Dan hasil dari pendidikan ini dapat dilihat dari jika mereka kembali ke jalan, artinya mereka tak lulus, dan jika tidak, berarti mereka berhasil.

Selama ini banyak program yang telah direncanakan pemerintah dan menganggarkan dana yang tidak sedikit untuk anak jalanan. Tapi hingga saat ini masih belum ada satu program yang terlihat mumpuni. Menurut Anda kenapa itu terjadi?

Selama ini anak jalanan hanya jadi obyek proyek LSM, sementara miliaran rupiah untuk rumah singgah terbuang percuma. Kasih sayang adalah pendidikan hidup yang terenggut dari kehidupan anak jalanan. Mereka dialpakan dan dianggap sampah masyarakat. Di balik penampilan anak-anak yang kumuh dan kotor, tersimpan jiwa anak-anak yang mendamba rumah dan perhatian. Jika didekati baik-baik, mereka akan membuka diri. Kita berharap pemerintah bisa lebih serius dan memperdalam program-program pendidikan yang dikhususkan bagi anak jalanan. Dengan begitu tak ada yang tersia-siakan dari setiap calon-calon penerus bangsa ini.

Sanggar Anak Matahari, Wadah Anak Jalanan

Seperti sekolah formal pada umumnya, sanggar Anak Matahari menjadikan kegiatan seni sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Selain mengamen, sekarang anak binaan sanggar ini sudah mulai belajar seni akting teater, membaca menulis puisi, dan kegiatan positif lainnya.

Sanggar Anak Matahari yang kini bertempat di Kp. Pintu Air Rt.04/Rw.07 Kel. Harapan Mulya, Kec. Medan Satria, kota Bekasi, berdiri sekitar 10 tahun lalu. Berawal dari rasa keprihatinan melihat anak jalanan yang belum bisa baca dan tulis, timbul keinginan untuk melakukan suatu perubahan. Anak binaan yang tadinya hanya segelintir saja, sekarang bertambah seiring berjalannya waktu. Hingga saat ini jumlah anak binaan sanggar Anak Matahari sudah mencapai 150 anak.

Anak Jalanan Islam adalah nama awal dari sanggar ini. Nama sanggar berubah menjadi Anak matahari sejak adanya usulan dari seseorang yang ingin membuat film tentang seorang aktivis yang membawa perubahan terhadap anak jalanan. Walaupun film ini tidak jadi dibuat, pihak sanggar sempat membuat trailernya. Perubahan nama ini juga seiring dengan penambahan anak binaan yang sekarang tidak hanya berasal dari anak jalanan saja, tetapi juga dari anak sekitar lingkungan sanggar.

Menurut Nadia salah satu pengurus sanggar, konsep dasar dari sanggar ini sendiri lebih kepada pendidikan formal sekolah dan pengembangan akhlak. “Kita tidak pernah memaksa mereka, hanya memberi arahan kalau hidup itu pilihan. Kalian mau tetap di jalanan dengan hidup yang seperti itu, atau mau seperti orang lain yang bisa memiliki sesuatu. Kalau kalian mau sesuatu maka kalian harus berusaha,” ujar Nadia. Ia juga menambahkan, tadinya anak binaan sanggar Anak Matahari mengambil sekolah paket. Namun, sekarang sebagian besar masuk sekolah formal. Walaupun ada beberapa kendala pada awalnya, tapi mereka bisa mengatasinya secara perlahan.

Seperti sekolah formal pada umumnya, sanggar Anak Matahari menjadikan kegiatan seni sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Selain mengamen, sekarang anak binaan sudah mulai belajar seni akting teater, membaca bahkan menulis puisi, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya. Satu hal yang membedakan komunitas ini dengan komunitas lainnya adalah sanggar Anak Matahari sudah sering mengikuti perlombaan. Tak jarang juga anak sanggar mendapat beasiswa, ada yang dari Dinas Sosial, Lembaga Amal Zakat, dan lainnya. Selain itu, Anak-anak binaan di sanggar ini sudah pernah rekaman lagu-lagu nasyid dalam bentuk CD.

Untuk masa mendatang, pengurus berharap anak-anak di sanggar kelak dapat membimbing anak lainnya, minimal satu anak sanggar dapat membimbing 10 anak jalanan atau dari komunitas lain supaya terpacu untuk bersekolah. Pengurus juga berharap ada relawan yang mau membantu mengajar di sanggar dari Senin-Jumat, karena untuk saat ini mereka masih kekurangan pengajar. Satu rencana yang sangat diinginkan adalah membuat antologi tentang anak jalanan, yang membedakannya mereka menginginkan antologi tersebut ditulis sendiri oleh anak-anak. “Kan belum ada tuh buku tentang anak jalanan tapi ditulis sendiri sama anak jalanan,

Tangisan Anak Jalanan

Tentang Anak Jalanan…!!!

Saya Membuat Artikel Ini supaya orang orang yang mampu bisa sadar dan membantu mereka orang miskin seperti: fakir miskin, yatim piatu, anak jalanan, pengamen dll tentang orang yang tiada daya upaya untuk hidup…..Pernahkan terlintas di pikiran Anda, Lebih hebat manakah kita dengan anak jalanan / pengamen? Apakah kita yang lebih hebat? Bagi Anda yang menjawab demikian Anda SALAH BESAR …tahukah apa yang membuat comment kita tersebut salah?.



Mungkin bila kita melihat orang jalanan / pengamen yang selalu yang ada di benak kita adalah anak kita yang kotor, kumuh, dan nakal. Memang semua itu benar, tapi ada suatu hal yang lebih berharga di balik semua itu. Anak jalanan /pengamen mempunyai suatu keistimewaan yang tidak kita miliki. Apa keistimewaannya? Tiap hari mereka mampu melawan kekejaman kehidupan hanya untuk 1 tujuan yaitu mencari uang untuk hidup 1 hari. walaupun yang didapat sedikit namun mereka tetap bersyukur dan tak mengenal kata “putus asa” untuk kembali berjuang pada hari-hari selanjutnya. Namun bagaimana dengan kita? Kita tidak tiap hari merasakan kekejaman dunia, hanya pada waktu tertentu saja namun lebih parahnya kita selalu gampang berputus asa bila mengalami kegagalan dan yang lebih parahnya lagi kita tidak pernah mensyukuri apa yang kita punyai saat ini. Sekarang lebih hebat manakah ?kita atau anak jalanan?

Anak jalanan pada umumnya adalah kaum muda yang sebenarnya adalah aset negara yang berharga. Sebagai modal kekuatan bangsa kaum muda ini harus disiapkan sedini mungkin dan ini menjadi tugas orang dewasa. Penyiapan-penyiapan yang terpenting adalah usaha agar mereka bisa melalui masa transisinya menuju dewasa. Di sinilah terlihat adanya perbedaan yang jelas antara penyiapan masa muda dengan masa dewasa. Pada hakikatnya masyarakat telah menempatkan anak-anak sepenuhnya di bawah kontrol orang tua. Para orang tuapun memiliki kekhawatiran jika masa transisi anak-anak mereka menjadi masa yang kritis sehingga berakibat kurang baik. Kekhawatiran itulah yang kini tidak hanya sebagai sebuah ketakutan tetapi sudah menjadi bukti dalam kehidupan masyarakat ketika ini dan di antaranya adalah kehidupan anak jalanan.


Persoalannya yang terpenting bukanlah mencari kesalahan siapa yang menyebabkan semua ini terjadi. Agaknya terlalu dini untuk menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, sebab masalah anak jalanan merupakan hal yang rumit dan beraneka ragam. Bisa saja latar belakang kehadiran mereka di kota ini bukanlah karena kekeliruan orang tua dan keras kepalanya sang anak. Tetapi bisa saja karena korban dari perjalanan sejarah yang tidak adil. Kisah anak jalanan yang terpaksa harus hidup menderita di jalanan karena tanah dan rumahnya dicaplok oleh penguasa dan pengusaha; merupakan contoh ketidakadilan itu. Dengan kekalahan itu akhirnya keluarga ini harus mengalami sejarah yang pahit, sehingga satu diantara mereka harus hidup menderita di jalanan. Di sini terlihat kekejaman penguasa dan pengusaha yang menjadikan mereka harus hidup menderita di jalanan.




Diakui atau tidak, kehidupan anak jalanan sudah menunjukkan keberadaannya sendiri di tengah hiruk pikuknya Kota Medan ini. Orang mau terima atau tidak yang pasti anak jalanan sudah menjadi suatu bagian dari sebuah kebudayaan yang mapan di kota ini. Berbagai macam respon terhadap kehidupan anak jalanan ini pun sudah menjadi reaksi soiologis dan kukltural baik secara negatif, positif, ataupun netral. Dan yang paling sering muncul adalah reaksi negatif. Anak jalanan telah meninggalkan masa lalunya di rumah dan kini mereka berada di jalanan. Mereka sebenarnya ingin diakui eksisensinya, walaupun mereka harus berhadapan dengan sanksi sebagai pelanggar hukum dan pandangan negatif sebagai sampah masyarakat.

Namun harus disadari, tindakan dan perilaku sosial dan budaya mereka hanyalah untuk mempertahankan diri dan mendapatkan pengakuan sehingga mereka menentang kultur dominan dan memperkuat solidaritas mereka. Pola kejiwaan yang terlihat dalam diri mereka adalah sikap tidak peduli (cuek) menghadapi kehidupan sehari-hari sebagai upaya agar eksistensi mereka diakui melalui penciptaan kultur-kultur baru dengan makna yang lebih spesifik. Gaya kehidupan inilah yang merupakan sebagai sebuah subkultur yang khas dari sebuah kehidupan anak jalanan. Bagi anak jalanan, jalanan merupakan arena untuk menciptakan satu organisasi sosial, akumulasi pengetahuan dan rumusan strategi bagi keberadaaan mereka. Di sisi lain anak jalan berupaya melakukan penghindaran atau melawan pengontrolan dari pihak lain, sehingga jalan raya bukanlah sekedar tempat untuk bertahan hidup tetapi untuk mempertahankan harga diri dan kemuliaan kemanusiaan mereka.


Apapun alasannya anak jalanan telah meninggalkan rumah dan menghidupi dirinya di jalanan atau bahkan menetap tinggal di jalanan. Dalam kehidupan anak jalanan terdapat dua fenomena sosial yaitu anak jalanan yang hanya bekerja di jalan dan anak jalanan yang memang hidup di jalan. Anak yang bekerja di jalan (misalnya penjual rokok, pengamen, penjual koran, penjual air minum dan lainnya) jauh lebih beruntung ketimbang anak jalanan yang hidup di jalan. Mereka memiliki tempat tinggal dan menjadikan jalanan hanya ebagai tempat berusaha. Sedangkan anak jalanan yang hidup di jalan menumpukan kehidupannya pada jalanan itu. Mereka memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap jalanan. Sedihnya dalam situasi dan kondisi yang demikian mereka juga harus menghadapi dishamoni, tindakan ilegal untuk mempertahankan hidup.


Mereka menentang permintaan orang dewasa sebagai bagian dari indentitas diri untuk menolak anggapan bahwa mereka hanyalah anak kecil. Di dalam kehidupan jalanan yang liar, proteksi terhadap diri mereka seringkali rapuh oleh hal-hal yang terkadang ringan dan iseng. Menentukan jalan hidup yang sendiri sering membuat mereka tidak memiliki tempat untuk berbagai rasa. Dalam kekecewaan itulah tidak jarang terjadi pelarian ke titik negatif yang dirasakan bisa menghilangkan kekalutan. Jerumusan inilah yang mengikat anak jalanan akan menjadi korban sepanjang umurnya. Bahkan dalam situasi yang demikian mereka masih mengalami berbagai tekanan yang datang dari orang-orang yang ingin mengeruk keuntungan. Dalam tekanan itu pula mereka harus bekerja dalam jam kerja yang cukup panjang tanpa batas waktu.

Keadaan ini telah menempatkan mereka sebagai sampah masyarakat akibat pandangan yang negatif. Bahkan secara hukum keberadaan mereka sering dibenturkan dengan pasal Ðpasal hukum yang berlaku. Betapa tidak mereka menghilangkan rasa malu dengan cara mabuk untuk memenuhi kebutuhan di tumpukan sampah, mengemis, ataupun melakukan pekerjaan yang berat dan di luar batas malu. Selain sebagai strategi ekonomi, mabuk itu akhirnya menimbulkan sikap tidak peduli dengan aturan hukum. Jadi dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya mereka mengalami tekanan batin yang luar biasa dan merasa tidak pernah merasa nyaman dan aman. Setidaknya dari sebuah keterpaksaan mereka telah meresapi makna sebuah kehidupan yang sesungguhnya. Walaupun kehidupan anak jalanan tidak memiliki kekuatan besar, namun hal itu adalah ekspresi dirinya dan reaksi terhadap kultur dominan masyarakat. Kalau mau jujur dapat dikatakan, keadaan yang mereka alami sebenarnya akibat dari perilaku orang dewasa.

Kontrol atas diri mereka yang berlebihan sehingga ekspresi kebebasan dan kreatifitas mereka terbatas sampai dengan tindakan ketidakadilan orang dewasa di rumah, di masyarakat, di sekolah, di kantor, di pemerintahan, dan di luar ruas jalanan itu luar jalanan telah menimbulkan kekecewaan pada diri mereka. Akhirnya mereka menjadikan jalanan sebagai ajang pemberdayaan diri dan penaklukan terhadap tindakan orang dewasa di. Anak-anak jalanan memilih kehidupan jalanan sebagai jalan keluar dari frustrasi sosial. Memang kehidupan anak jalanan ini merupakan sumber terciptanya sub-kultur baru anak muda perkotaan, tetapi keadaan ini tetap akan menempatkan anak jalanan di pinggir bahkan di luar tatanan sosial masyarakat yang dalam banyak hal selalu diabaikan oleh orang dewasa.

Anak Jalanan dan Penyakit Sosial

“Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sampai kaum itu merubah nasibnya sendiri”

(Al – Qur’an)

Suatu kali, Presiden Korea berkunjung ke Timur Tengah. Dia melakukan kunjungan kenegaraan. Sang presiden, melewati gerbang istana kepresidenan. Dia membaca sebuah tulisan, kutipan ayat Al – Qur’an berbahasa Arab. Beliau bertanya, apa maksud tulisan itu. Seorang menjelaskan, makna ayat itu. Dia terkesima, membawa kutipan ayat itu ke negaranya. Dia merubahnya, “Allah tidak akan mengubah keadaan rakyat Korea, sampai rakyat Korea mengubah nasibnya sendiri”

Cuplikan kisah di atas, melukiskan perubahan itu keniscayaan. Manusia tidak selamanya miskin, perputaran kehidupan pasti terjadi. Pendidikan misalnya, dapat mengubah harkat dan derajat manusia menuju kehidupan lebih baik.

Anak Jalanan, generasi terpinggirkan

Baiklah, penulis ingin mengajak anda bertualang. Memasuki lorong kehidupan, masuk ke wilayah kumuh dan marginal. Kita ingin memotret getir kehidupan anak bangsa. Anak yang lahir sebagai pemilik sah bangsa. Melihat kembali kondisi penuh kegundahan dan ketidakpastian. Kondisi kesedihan akibat dampak kemiskinan yang menggurita.

Setiap manusia normal pasti memiliki jiwa sosial dan kepekaan nurani. Melihat kesenjangan sosial di masyarakat, hatinya tentu merasakan kesedihan mendalam. Timbul keresahan dan perasaan bergejolak melihat adanya perampasan hak manusia. John Locke berkata “ kecuali hak – hak dasar manusia yang bersifat umum, yaitu hak akan kehidupan, hak akan kemerdekaan dan hak akan milik, manusia juga memiliki hak untuk hidup layak. Adalah tugas negara untuk memberikan hidup layak bagi warganya.

Keresahan pertanda masih ada kepekaan nurani. Sehingga bukan tak mungkin menggerakan hati manusia. Jika itu terjadi, maka kesadaran terbangun dan membuat manusia bergerak melakukan perubahan. Terbentuk komunitas dan gerakan swadaya memperbaiki keadaan yang memburuk. Berkaitan kondisi masyarakat miskin dan anak jalanan, ada tiga ranah utama yang bisa dikembangkan : gerakan pendidikan budaya, gerakan swadaya ekonomi, gerakan kesehatan dan lingkungan, terakhir gerakan solidaritas sosial. (Ignatius Sandyawan, 2005)

Membaca dinamika sosial membuat kita jadi manusia perasa. Hati mudah luluh dan sedih melihat adik kecil harus sibuk bekerja. Tidak sekolah dan sibuk mencari uang, naik turun mengamen di bus kota. Secara psikologi jelas mereka terganggu, pendidikan terbengkalai sehingga berpotensi melahirkan penyakit sosial. Kriminalitas merebak dan kejahatan mengancam masyarakat. Berbagai pelanggaran sosial tak pernah berhenti. Semua itu dituding karena kemiskinan, sehingga melahirkan komunitas baru bernama anak jalanan.

Di tengah kerumitan menghadapi masalah anak jalanan, pemerintah bergerak lamban. Tak jarang penanganan masalah berjalan reaktif, temporal dan diskriminatif. Misalnya setiap hari, kita melihat adanya razia anak jalanan. Mereka ditangkap, dijebloskan ke panti sosial. Sesudah dirasa cukup pembinaan, kawanan anak jalanan dilepaskan. Ironis, tapi begitulah fakta di lapangan.

Suatu hari penulis berjumpa seorang adik kecil. Dia bercerita mengapa mengamen di bus kota. Semata mengejar kebutuhan perut. Masalah ekonomi jadi alasan utama. Tak jarang pula, hasil mengamen yang tak seberapa banyak dirampas. Ada upaya sistematis “memelihara” anak jalanan sebagai komoditas layak jual. Kondisi diperparah orang tua yang tidak mau tahu, bahkan lebih mengharapkan sang anak bekerja. Seakan orang tua mereka mengatakan“ lupakan sekolah dan pergi sana mengamen. Cari duit buat makan”

Menghadapi problematika anak jalanan, paling tidak ada fakta yang menarik dicermati, penulis berusaha memotret lebih dekat fakta itu. Sebuah kenyataan getir, akibat kegagalan pemerintah menyejahterakan masyarakat.

Kegalalan negara

Setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan sebagai hak fundamental. Kewajiban ini dibebankan kepada negara bertujuan agar rakyat sejahtera. Secara konstitusi, hak dasar itu dipertegas misalnya “ negara wajib menganggarkan 20% APBN”. Sebuah semangat yang menegaskan, adanya tanggung jawab penguasa terhadap rakyat yang dipimpinnya. Alokasi anggaran menandakan kesejahteraan rakyat melibatkan sinergitas negara dan rakyat.

Ironisnya dalam kasus anak jalanan, banyak dari mereka kehilangan (tepatnya dirampas) haknya oleh negara. Satpol PP sebagai alat negara, menindas, memukuli dan memeras para pengamen. Sebuah bentuk kezaliman dipertontonkan dengan dalih, menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat. Sebuah pertanyaan besar, mengapa masyarakat kecil selalu ditertibkan dan dijadikan korban. Kemarginalan dan takdir hidup, sudah miskin, dicaci mendapat perlakuan diskriminatif pula.

Mengemis dan Mengamen untuk Makan

Eksistensi anak jalanan menyiratkan sebuah keresahan atas fenomena ganjil pada masyarakat.Timbul keresahan, maraknya anak jalanan berkonotasi positif terhadap ketertiban dan keamanan masyarakat.Kita melihat bagaimana anak kecil mengamen di bus kota, perempatan lampu merah atau terminal. Bekerja keras, demi mengumpulkan recehan untuk menyambung hidup.

Permasalahan mendasar berakar pada kebutuhan ekonomi. Mereka bekerja untuk mencari sesuap nasi. Mengemis, mengamen dan memalak seakan menjadi tradisi kehidupan mereka. Ironisnya pemerintah terkadang mengambil jalan pintas menghadapi masalah ini. Razia anak jalanan sering dilancarkan, tapi tetap gagal mengatasi persoalan. Sebab pendekatan represif lebih diutamakan daripada pendekatan berbasis kemanusiaan, ekonomis atau pendidikan.

Sepantasnya pemerintah mengambil tindakan preventif (mencegah) bukan kebijakan tambal sulam. Razia anak jalanan dilanjutkan pengiriman ke panti sosial merupakan solusi instan. Ada baiknya pemerintah menempuh pendekatan ekonomi. Misalnya membagun komunitas wirausaha kreatif anak jalanan.

Kami Manusia, Bukan Binatang

Masyarakat terlanjur mengecam kehidupan dan aktivitas anak jalanan. Berbagai stigma negatif diberikan terhadap perilaku mereka. Pelabelan malas, kotor, penuh kekerasan, rawan, bodoh sulit dilepaskan. Kita cenderung antipasti dan menolak eksistensi mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Seakan sudah nasib anak jalanan menjadi generasi terhinakan.

Lebih menyakitkan, tuduhan sebagai sampah masyarakat melekat erat. Bagi manusia umumnya, anak jalanan adalah penjahat, pencopet, tukang palak. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi efek psikologis. Bukan tak mungkin, mereka jadi kebal atas berbagai stigma negatif. Akibatnya perilakunya semakin menggila dan cenderung apatis terhadap sekitarnya.

Kita sering mendapati anak jalanan, tidak hanya mengemis. Mereka menodong penumpang bus, mengamen dengan memaksa dan berbagai kejahatan lain. Citra sebagai kaum terpinggirkan dan kemiskinan struktural membuat mereka terpaksa melakukan itu. Sementara masyarakat mencap jelek, tanpa ada upaya mau memahami psikologis dan kondisi yang melatarbelakanginya.

Membaca kondisi menyedihkan marginalisasi anak jalanan, sepantasnya kita memunculkan pertanyaan mendasar. Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?. Sebab rasanya pemerintah tak lagi bisa diandalkan menghadapi serbuan masalah anak jalanan. Kompleksitas penyakit sosial ini seolah menemukan solusi tanpa akhir. Setiap berusaha melahirkan sebuah gagasan dan solusi konstruktif,masalah baru selalu menghadang.

Kemampuan membaca masalah memang lahir karena belum ada upaya serius pemerintah. Penanganan anak jalanan masih gali lubang tutup lubang. Belum ada upaya integral membenahi komunitas anak jalan secara kreatif dan produktif. Rendahnya pendidikan baik sang anak dan orang tua juga belum menggambarkan upaya serius mengentaskan maraknya anak jalanan terutama di kota besar.

Penulis sendiri menyarankan, setidaknya pemerintah membangun tiga basis mengatasi problematika anak jalanan.

Pertama, membangun basis pendidikan alternatif berbasis anak jalanan. Pada dasarnya anak jalanan rela turun ke jalan dan bekerja karena dua faktor. Pertama rendahnya pendidikan sehingga mengakibatkan rendahnya kesadaran mendapatkan kesempatan hidup layak. Timbul sinergitas pendidikan yang berbanding lurus dengan ekonomi. Makin rendah pendidikan maka makin terbuka peluang terciptanya kemiskinan secara ekonomi.

Pembangunan pendidikan alternatif dipandang penting, tentu menyesuaikan kebutuhan dan persepsi mereka tentang dunia pendidikan. Misalnya kurikulum yang fleksibel dimana menekankan proses pembelajaran berorientasi mengentaskan pemberantasan buta huruf. Penekanan lebih mengarah pada belajar calistung. Jika memungkinkan, sang anak memiliki minat melanjutkan pendidikan dan berpretasi diberikan beasiswa atau melanjutkan ke program pendidikan kesetaraan.

Tak boleh dilupakan, pendidikan kecakapan hidup. Jika mereka terbiasa pagi mengamen ada baiknya mereka diajarkan lagu yang baik. Pendidikan kepribadian berupa perilaku santun perlu juga ditumbuhkan. Misalnya mengucapkan salam (bagi yang muslim) sebelum mengamen, tidak memaksa penumpang dan menjauhi perbuatan mengarah pada kriminalitas yang merugikan orang lain.

Kedua, membuat sanggar anak jalanan sebagai sarana menumbuhkan kreativitas dan produktivitas. Potensi anak jalanan sebenarnya banyak dan harus terus digali sehingga menimbulkan kesadaran mereka mampu dan layak bersaing. Ada sebagian suka menyanyi, dibuatlah program seni musik dan tari. Setiap akhir bulan diikutkan kompetisi menyanyi atau menari. Ada yang menyukai sablon, ajarkan mereka menyablon kaos sehingga menghasilkan uang memenuhi kebutuhan hidup.

Ketiga, melakukan pendekatan intensif dalam menghadapi kenakalan dan ulah anak jalanan. Selama ini pola razia menghasilkan paradigma destruktif, kontradiktif dan bersifat incidental. Belum menyentuh akar persoalan, dimana setiap digelar razia maka berujung sang anak “dijebloskan” ke panti sosial. Ironisnya kegiatan itu berlangsung formalitas sebab setelah mendapatkan sedikit banyak pengarahan sang anak kembali dilepaskan. Tak heran mereka kembali turun merasakan aspal jalanan.

Kondisi memprihatinkan ini, disebabkan pemerintah gagal membuat pola pendekatan persuasive. Alangkah baiknya, sang anak jalanan diberdayakan secara manusiawi. Ketika tertangkap razia, diserahkan ke panti sosial untuk dibina dan dididik lebih dekat. Misalnya membuat pelatihan wirausaha atau keterampilan lain yang lebih berguna. Sehingga masalah “perut” sebagai akar persoalan fundamental dapat teratasi. Jika ini sudah berjalan, pemerintah dapat mengarahkan untuk menyentuh aspek pendidikan sehingga meningkatkan taraf hidup mereka.

Sisi Lain Anak Jalanan

Pernahkan terlintas di pikiran Anda, lebih hebat manakah kita dengan anak jalanan / pengamen?

Apakah kita yang lebih hebat?

Bagi Anda yang menjawab demikian Anda SALAH BESAR … tahukah apa yang membuat comment kita tersebut salah?

Mungkin bila kita melihat orang jalanan / pengamen yang selalu yang ada di benak kita adalah anak yang kotor, kumuh, dan nakal. Memang semua itu benar, tapi ada suatu hal yang lebih berharga di balik semua itu. Anak jalanan /pengamen mempunyai suatu keistimewaan yang tidak kita miliki.

Apa keistimewaannya?

Tiap hari mereka mampu melawan kekejaman kehidupan hanya untuk 1 tujuan yaitu mencari uang untuk hidup 1 hari. Walaupun yang didapat sedikit namun mereka tetap bersyukur dan tak mengenal kata “putus asa” untuk kembali berjuang pada hari-hari selanjutnya.

Namun bagaimana dengan kita?

Kita tidak tiap hari merasakan kekejaman dunia, hanya pada waktu tertentu saja namun lebih parahnya kita selalu gampang berputus asa bila mengalami kegagalan dan yang lebih parahnya lagi kita tidak pernah mensyukuri apa yang kita punyai saat ini.

Sekarang lebih hebat manakah ?

Kita atu anak jalanan?